JAKARTA — Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memantik reaksi keras dari berbagai elemen kepemudaan. Kasus ini dinilai semakin memperpanjang deretan persoalan yang mengiringi implementasi program prioritas nasional, Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sorotan tajam salah satunya datang dari Angkatan Muda Al Washliyah, yang terdiri dari Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Al Washliyah (PP GPA) dan Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH). Mereka mendesak Kejaksaan Agung (Kejagung) RI untuk mengusut tuntas skandal ini tanpa pandang bulu.
Tudingan Nepotisme dan “Kualat”
Ketua Umum PP GPA, H. Aminullah Siagian, secara blak-blakan menyebut bahwa kasus hukum yang menjerat Dadan Hindayana beserta kroninya merupakan dampak dari pengelolaan lembaga yang dinilai sarat akan kepentingan sepihak dan mengabaikan keterlibatan organisasi kemasyarakatan (ormas) seperti Al Washliyah.
“Dadan ini kualat. Di saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Presiden Prabowo ini dikelola dengan nepotisme, maka beginilah jadinya,” ungkap Aminullah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (11/6/2026).
Menurut Aminullah, sejak awal pengelolaan program ini diduga sudah melenceng dari niat tulus untuk menyejahterakan rakyat, terutama karena terkesan menutup pintu bagi kolaborasi dengan elemen umat.
Dugaan Aliran Keuntungan Rp1 Miliar per Hari
Dugaan keterlibatan jejaring bisnis dalam program MBG diungkapkan lebih detail oleh Ketua Umum PP HIMMAH, Abdul Razak Nasution. Ia mensinyalir adanya gurita perusahaan yang terafiliasi langsung dengan Dadan untuk mengeruk keuntungan pribadi dalam jumlah fantastis dari proyek negara tersebut.
“Banyak perusahaan yang terafiliasi dengan Dadan CS, sehingga diduga ia mampu meraup keuntungan kurang lebih Rp1 miliar per hari. Kejaksaan Agung harus mengusut kasus ini sampai ke akar-akarnya, periksa semua nama-nama besar yang terlibat, dan segera pidanakan,” tegas Razak.
Razak mengingatkan bahwa kepala badan maupun menteri di Kabinet Merah Putih merupakan pembantu presiden yang seharusnya menjaga amanah, bukan malah memanfaatkan situasi demi memburu rente.
“Pembantu itu tugasnya membantu, ya harus tahu diri. Jangan banyak gerakan tambahan dan memanfaatkan ketulusan hati Pak Prabowo yang ingin mencetak Generasi Emas 2045 melalui pemenuhan gizi anak-anak, ibu hamil, dan menyusui,” jelasnya.
Angkatan Muda Al Washliyah Kawal Kejagung
Sebagai bentuk komitmen menjaga program strategis negara, GPA dan HIMMAH menegaskan akan berdiri di baris depan untuk mengawal kinerja korps Adhyaksa dalam membersihkan Badan Gizi Nasional.
“Kami Angkatan Muda Al Washliyah, HIMMAH dan GPA, mengawal ketat kasus ini serta mendukung sepenuhnya langkah Kejagung untuk membongkar tuntas perkara ini. Harus ada efek jera yang nyata kepada para tikus berdasi ini,” pungkas Razak.












