Deli Serdang, Youbenews.com – Proyek peninggian tanggul hulu Bendung DAS di Jalan Karantina Ikan, Desa Araskabu, tampaknya sedang menjadi monumen “kreativitas” konstruksi tahun 2025. Betapa tidak, proyek yang menelan APBN hingga Rp18 miliar ini diduga dikerjakan dengan kualitas yang lebih mirip saringan daripada benteng penahan air.
Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Sumatera Utara (DPW GMP Sumut) tidak bisa menahan tawa getir melihat hasil investigasi lapangan mereka. Ketua DPW GMP Sumut, M. Idris Sarumpaet, mengungkapkan bahwa proyek yang dikerjakan oleh PT Lira Permata Cibubur ini memiliki banyak “ruang bernapas” pada pemasangan bronjongnya.
Konstruksi “Hemat” di Balik Anggaran Mewah Indikasi penyimpangan yang ditemukan GMP Sumut tergolong “berani”. Mulai dari pemasangan bronjong yang tidak rapat dan menyisakan banyak rongga, penggunaan kawat pengikat yang ukurannya diduga “diet” dari standar, hingga pemasangan geotekstil yang ala kadarnya.
“Kami heran, dengan anggaran Rp18 miliar, kenapa hasilnya seperti ini? Pemasangan bronjongnya longgar, kawat pengikatnya disinyalir tak sesuai ukuran. Apakah ini tanggul penahan air atau sekadar pajangan batu?” sindir Idris Sarumpaet, Sabtu (9/5).
Mendesak Jaksa “Bedah” BBWS Sumatera II Tak hanya masalah fisik, dugaan absennya penguatan struktur di balik bronjong dinilai sebagai bom waktu yang siap meledak saat tekanan air meningkat. GMP Sumut pun mendesak Kejaksaan Tinggi dan Polda Sumatera Utara untuk segera bangun dari tidur dan memanggil Kepala BBWS Sumatera II serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) terkait.
Mereka menuntut audit investigatif dari BPK dan BPKP untuk menghitung seberapa besar potensi kerugian negara dari proyek TA 2025 yang diduga dikerjakan secara “minimalis” ini. GMP Sumut bahkan dengan tegas meminta pengerjaan dihentikan sementara daripada terus membuang-buang uang negara untuk konstruksi yang kualitasnya dipertanyakan.
Publik kini menunggu, apakah aparat penegak hukum akan menyeret pihak rekanan ke meja hijau, atau membiarkan tanggul Rp18 miliar tersebut hanyut terbawa arus saat musim hujan tiba nanti?










