Medan, youbenews.com – Di bawah naungan payung warna-warni di sisi Jalan Iskandar Muda, tepat di dekat Masjid Al-Jihad, seorang perempuan paruh baya tampak sibuk melayani pembeli. Di atas meja kayu sederhana, kotak-kotak nasi bento tersusun rapi. Sebuah spanduk bertuliskan “BENTO Harga Promo 10K” menarik perhatian pejalan kaki yang lalu-lalang.
Dialah Ibu Nasution, sosok ibu tangguh yang telah setahun terakhir menjajakan nasi bento murah meriah bagi masyarakat sekitar. Meski dengan fasilitas terbatas, usahanya tak pernah sepi peminat.
“Sudah hampir satu tahun saya jualan di sini, mulai setiap pagi jam setengah tujuh,” ujarnya saat ditemui, Jumat (30/5/2025).
Menu yang ia tawarkan sederhana: nasi, lauk, sayuran, dan sesekali tambahan kerupuk atau buah potong. Namun cita rasa dan harganya yang terjangkau membuat nasi bento ini menjadi favorit berbagai kalangan. Dalam sehari, Ibu Nasution mengaku bisa menjual 60 hingga 70 kotak.
“Yang beli campur. Tapi paling banyak itu karyawan, anak sekolah, sama mahasiswa. Apalagi anak-anak Ilmu Komunikasi, kalau mereka ada acara pasti pesan banyak,” tambahnya.
Dibanderol hanya Rp10.000 per kotak, usaha bento ini bukan sekadar bisnis sampingan. Bagi Ibu Nasution, inilah sumber penghidupan utama untuk mendukung ekonomi keluarga.
“Kalau dihitung, bisa dapat di atas lima ratus ribu sebulan. Tapi tergantung, kadang ramai, kadang biasa saja,” ungkapnya jujur.
Dibantu seorang kerabat pria, Ibu Nasution memastikan setiap kotak disajikan dengan cepat dan higienis. Tanpa tempat makan permanen atau etalase mencolok, ia mengandalkan kualitas rasa dan pelayanan ramah untuk mempertahankan pelanggannya.
“Yang penting semangat jualan. Kita bantu siapa saja yang butuh makan enak, sehat, dan murah,” katanya sembari tersenyum.
Usaha mikro seperti milik Ibu Nasution merupakan bagian dari denyut nadi ekonomi rakyat. Berada di lokasi strategis yang dikelilingi sekolah, masjid, dan kampus, membuatnya selalu relevan dan dibutuhkan.
Tak hanya menyajikan makanan, Ibu Nasution juga menyuguhkan ketulusan dalam setiap kotak bento. Di tengah naiknya harga kebutuhan pokok, keberadaan makanan bergizi dengan harga terjangkau seperti ini menjadi solusi nyata bagi masyarakat bawah.
Usaha kecil ini mungkin tampak sederhana, namun dampaknya besar—bagi pelanggan, lingkungan sekitar, dan tentu saja, bagi sang penjual yang terus setia berdiri di trotoar, menawarkan makan siang dengan sepenuh hati.
Penulis : Ahmad fadil Hsb












