LUBUK PAKAM – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Deli Serdang tampaknya benar-benar berada di pusaran tak sedap. Setelah sebelumnya dihujani kritik tajam oleh elemen pemuda, kini giliran Pimpinan Cabang Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PC HIMMAH) Kabupaten Deli Serdang yang ikut “turun gelanggang” mengecam keras kelalaian panitia dalam menempatkan posisi duduk Ketua MUI Deli Serdang, KH. Kaya Hasibuan.
Kecaman dari kalangan aktivis mahasiswa ini dipicu oleh beredarnya dokumentasi visual di media sosial saat agenda Deklarasi Damai Pilkades Serentak Gelombang II di Balairung Pemkab Deli Serdang, Selasa (19/5). Dalam acara tersebut, sang ulama kharismatik didudukkan di barisan belakang jajaran TNI-Polri serta bersebelahan dengan perempuan yang bukan mahramnya.
Mahasiswa Sebut Panitia Buta Sejarah dan Degradasi Adab Ketua PC HIMMAH Deli Serdang, Hafizh Tampubolon, menegaskan bahwa insiden ini mencerminkan betapa dangkalnya pemahaman panitia PMD terhadap etika, tradisi birokrasi lokal, serta penghormatan terhadap simbol agama.
“Kami sangat menyayangkan sikap panitia PMD yang terkesan tidak memahami adab dalam menempatkan seorang ulama besar seperti Ketua MUI Deli Serdang. Beliau adalah tokoh agama yang sangat dihormati masyarakat, bukan sekadar tamu biasa,” cetus Hafizh Tampubolon dengan nada berang, Rabu (20/5).
Hafizh mengingatkan, secara historis dari masa ke masa, protokoler Pemkab Deli Serdang selalu memosisikan Ketua MUI di barisan depan, sejajar dengan Bupati dan Wakil Bupati. Langkah panitia menaruh kursi ulama di barisan belakang dinilai sebagai bentuk degradasi marwah institusi keagamaan yang tidak bisa ditoleransi oleh kaum pergerakan mahasiswa.
Ultimatum Angkat Kaki: Copot Kadis dan Kabid PMD! Tak sekadar melempar kritik di balik meja, PC HIMMAH Deli Serdang secara organisatoris langsung melayangkan tuntutan tegas kepada Bupati Deli Serdang. Mereka mendesak agar Kepala Dinas PMD beserta Kepala Bidang yang bertanggung jawab atas kepanitiaan acara tersebut segera dievaluasi total dan dicopot dari jabatannya.
Bagi kalangan mahasiswa, ketegasan Bupati sangat dinanti sebagai langkah mitigasi agar insiden yang melukai sentimen umat religius ini tidak menjadi preseden buruk bagi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya di Deli Serdang. Publik kini menunggu apakah Bupati akan mengambil tindakan disiplin yang radikal, atau justru memilih mengendapkan tuntutan aliansi hijau-putih ini.











