Bagian 1: Sebelum Semua Terlambat.
Aku pertama kali melihat Dira di depan gedung rektorat. Dia tidak sedang berorasi atau membentangkan spanduk, tapi sibuk membagi-bagikan selebaran. Tangan kirinya memegang tumpukan kertas tuntutan, tangan kanannya sibuk menunjuk-nunjuk poster yang ditempel di tembok.
“Kalau kamu diem aja, kamu bagian dari masalah,” katanya ke seseorang yang lewat tanpa menoleh. Kalimat itu entah kenapa langsung nempel di kepala.
Sebut saja namaku Ilham. Mahasiswa semester enam jurusan komunikasi. Bukan aktivis. Bahkan bisa dibilang, aku tipe yang Cuma aktif di kelas, aktif di medsos, tapi pas ada aksi, malah sibuk ngopi atau nonton series.
Tapi entah kenapa hari itu aku berhenti. Menerima selebarannya. Dan untuk pertama kalinya, aku baca sampai habis. Tentang rencana kebijakan kampus yang mau mencabut fasilitas UKM, memotong anggaran kegiatan mahasiswa, dan mewajibkan semua organisasi kampus tunduk pada satu badan koordinasi yang mereka bentuk sendiri – yang artinya, semua suara akan dikendalikan.
Dira menatapku seperti tahu aku sedang mempertimbangkan. “Datang aja ke diskusi malam ini. Di Basecamp BEM.”
Aku Cuma angguk. Nggak janji. Tapi jam delapan malam, aku datang.
Basecamp BEM malam itu riuh. Kursi plastik berderet, anak-anak organisasi pakai jaket almamater, beberapa wajah familiar dari medsos aktivis. Dan di sana, Dira. Duduk di depan, memegang mic, membacakan kronologi kebijakan kampus dan kemungkinan langkah hukum yang bisa ditempuh.
“Perlawanan ini bukan sekadar aksi jalanan,” katanya. “Ini soal eksistensi kita sebagai mahasiswa. Kalau kita diam, ini akan jadi warisan kepasrahan ke generasi setelah kita.”
Aku duduk di pojok. Diam. Tapi mataku tak lepas dari dia.
Setelah diskusi selesai, aku nyamperin.
“Kamu serius ngajak aku datang?”
Dia tersenyum. “Kalau kamu nggak datang, aku bakal mikir kamu Cuma mahasiswa biasa.”
Aku nyengir. “Terus sekarang?”
“Sekarang kamu calon kawan seperjuangan,” jawabnya. “Tapi jangan baper ya. Aku nggak janji bisa perhatian di tengah rapat.”
Kami tertawa.
Dan malam itu, aku pulang dengan kepala penuh argumen… dan dada yang mulai terasa berbeda.
(Cerpen/youbenews.com)





