LANGKAT — Fenomena kejahatan Bajing Lompat di Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, mendapat sorotan keras dari Sekretaris Pimpinan Wilayah Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PW HIMMAH) Sumatera Utara, Aldi Satrio. Ia menegaskan bahwa kejahatan di jalur vital tersebut sudah menjadi fenomena lumrah, terorganisir, dan darurat keamanan. Minggu, 18 Oktober 2026.
Aldi mengungkapkan, jalur rawan tersebut membentang panjang mulai dari SPBU Wampu hingga Tanjung Beringin. Titik tersebut kini menjadi momok bagi sopir truk logistik yang melintas Medan — Aceh.
Berbeda dengan laporan biasa, Aldi menegaskan dirinya adalah saksi langsung di lapangan. “Awalnya kami dapat laporan dari sopir dan masyarakat yang resah. Tapi setelah itu, saya melihat langsung setiap malam. Saya turun sendiri ke lapangan. Modusnya sama, mereka standby di area SPBU Wampu, mengintai truk bermuatan berat yang melambat, lalu naik ke bak dan menjatuhkan muatan sawit, ayam potong, hingga sembako. Aksinya terus berlangsung sampai Tanjung Beringin. Ini bukan maling kecil, ini sudah terorganisir dan terang-terangan,” tegas Aldi Satrio, Sabtu (18/10).
Menurutnya, ada tiga kerugian besar yang membuat kejahatan ini harus di hentikan:
1. Kerugian Sopir : Satu truk bisa rugi jutaan rupiah karena harus mengganti muatan yang dijatuhkan pelaku. Jika sopir takut melintas, biaya logistik Langkat akan naik dan rakyat yang dirugikan.
2. Citra Langkat Sebagai Blackspot Logistik: Jalur Wampu adalah urat nadi Tol Trans Sumatera Binjai – Stabat. Jika dibiarkan, Langkat akan dicap daerah tidak aman untuk investasi.
Atas kondisi tersebut, Aldi Satrio atas nama PW HIMMAH Sumut menyampaikan tiga desakan tegas:
1. Kepada Kapolres Langkat: Segera bentuk Tim Khusus Anti Bajing Lompat dan gelar Operasi Cipta Kondisi tertutup di sepanjang SPBU Wampu – Tanjung Beringin yang bekerja sama dengan Pemerimtah Desa serta melibatkan Pemuda setempat.
2. Kepada Pemkab Langkat dan Dishub: Berikan solusi atas penerangan jalan yang minim di sekitaran jalan rawan.
3. Kepada Camat Wampu dan Kades: Aktifkan kembali Poskamling dan Siskamling bersama pemuda.
Di akhir pernyataannya, Aldi memberikan ultimatum. “Langkat adalah rumah kami. Karena saya saksi langsung setiap malam, saya tidak akan diam. Kami dari PW HIMMAH Sumut memberi waktu 3×24 jam untuk ada tindakan nyata di lapangan. Jika tidak, saya akan kerahkan dan konsolidasi kader HIMMAH se- Kabupaten Langkat untuk mengepung jalur Wampu dan menggelar aksi damai besar-besaran di depan Mapolres Langkat dan Kantor Bupati Langkat. Keamanan rakyat adalah harga mati,” tutupnya.











